Pencukuran Rambut Anak Gembel, Tradisi Unik Dari Dataran Tinggi Dieng

Saat sedang asik menikmati sarapan mi Ongklok, ternyata iring-iringan anak berambut gembel (gimbal) sudah mulai berdatangan. Diikuti beberapa rombongan kecil yang menampilkan kesenian budaya tradisional dari sekitar Dieng, menambah suasana pawai semakin meriah.

Bahkan dari komunitas Barongsai pun turut serta memeriahkan festival kali ini. Sedikit atraksi di pelataran parkir candi, dikelilingi cukup banyak penonton yang sepertinya mayoritas dari masyarakat sekitar.

Atraksinya cukup menarik minat banyak pengunjung

Karena acara puncak yang sudah akan dimulai. Segera menuju candi Arjuna yang ternyata sudah dipadati ribuan pengunjung. Cukup sulit juga menembus keramaian ini.

Beruntung sudah dapat tiket masuknya. Walau hanya di kelas festival, rasanya sudah cukup puas dapat lebih dekat menyaksikan prosesi pencukuran rambut anak gembel yang fenomenal ini.

Fenomena anak berambut gembel ini memang sangat mencengangkan. Terjadi secara alami kepada siapa pun di sekitar dataran tinggi Dieng ini. Jadi bukan turun-temurun di keluarga tertentu saja.

Ritual ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Selain sang anak yang menentukan kapan dia siap rambutnya untuk dipotong juga segala permintaannya harus dituruti terlebih dahulu. Jika keinginannya ada yang belum terpenuhi, konon katanya rambut gembel tersebut akan tumbuh lagi dan dia juga akan terus sakit-sakitan.

Anak-anak rambut gembel yang siap mengikuti prosesi.

Tahun ini ada tujuh anak bersedia ikut prosesi yang dikemas dalam sebuah pesta rakyat bertajuk Dieng Culture Festival. Salah satunya yang paling saya ingat adalah gadis cilik dengan permintaan paling sedernaha. Dia hanya menginginkan lima jambu air merah dan mendoan tempe gembus. Bahagia itu sederhana kawan.

Peserta cukup khitmad mengikuti prosesi

DCF2013-30

Sayangnya saya dan istri tidak cukup waktu berlama-lama berada di sini, jarak yang cukup jauh dengan tanah Pasundan menjadi penghalang. Namun sudah cukup puas, sedikit mengobati rasa penasaran selama ini. Terima kasih buat panitianya, lestarikan terus budaya Indonesia.

About these ads

14 responses to “Pencukuran Rambut Anak Gembel, Tradisi Unik Dari Dataran Tinggi Dieng

  1. pengen rasanya ke dieng, tapi belum juga sempat. padahal dah beberapa kali ke wonosobo. dan mertua pun tinggal di pekalongan.. dekeett.. tapi g sempatt..

    • Dari wonosobo sih tinggal 30 km lagi mas bro :D
      Harus mampir tuh kapan2

      Dari pekalongan via Doro jalurnya lebih mantap dan menantang lagi :mrgreen:
      Akan banyak ketemu air terjun kalau lewat sana

    • Insyaallah gk, tinggal kita menyikapi bagaimana :)
      Walau ilmu agama saya tidak tinggi
      Saya percaya semuanya terjadi lillahi ta’ala

    • betul mas Hendri. Tergantung bagaimana kita menyikapi. Islam berkembang di Indonesia karena tidak melupakan tempat dimana dia berkembang.

    • pas banget nih penjelasannya mas
      seperti sunan Kalijaga, beliau memasukkan pengaruh agama islam ke dalam adat istiadat. tidak serta merta menolaknya bahkan menjadikannya sebagai sarana dakwah.

  2. Segala bentuk ritual itu itu tidak bisa di katakan myusrik itu semua tinggal niat kita dengan cukur rambut gimbal kita kita bikin slamatan mengeluarkan sodaqoh itu di ajarkan agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s