Journey to Dieng Plateau and Jogja

Perjalanan ini sudah cukup lama direncanakan, dan dengan persiapan yang cukup matang. Namun sedikit melenceng dari rencana semula karena beberapa pertimbangan.

Hari ke-1

Kamis, 1 September 2011. Perjalanan dengan istri tercinta dimulai dari Malangbong, tempat kediaman mertua sekitar pukul 06:30 wib dengan tujuan awal dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jateng.

Berhubung masih dalam suasana mudik lebaran, bisa dipastikan kalau jalan yang akan dilalui cukup padat oleh pemudik. Benar saja, setelah melewati daerah Gentong, Ciawi Tasikmalaya, kita sudah dihadapkan dengan kemacetan cukup panjang. Namun masih cukup mudah dilewati oleh motor.

Sekitar pukul 08:30 sudah masuk daerah Cisaga Banjar, demi menjaga fisik agar tetap fit, saya dan istri istirahat sejenak di SPBU sekitar. Cukup 30 menit saja, perjalanan yang masih jauh pun dilanjutkan kembali.

Selesai istirahat di daerah Banjarnegara

Kali ini perjalanan cukup lancar. Namun memasuki daerah Majenang, kemacetan cukup panjang tak terhindarkan akibat adanya mobil pribadi yang terbakar di sisi kiri jalan. Semoga pengemudi dan penumpangnya tidak mengalami luka yang serius.

Melewati daerah ini harus lebih berhati-hati, struktur jalan yang tidak rata dapat memicu terjadinya kecelakaan.

Sekitar pukul 11:30 sudah tiba di daerah Rawalo, banyak pedagang yang menawarkan kesegaran es dawet khas Banyumas. Mumpung jalanan macet dan badan sudah cukup lelah, tidak ada salahnya menikmati segelas atau dua gelas es dawetnya. 🙂

Tiba sekitar pukul 16:30 di kawasan Dieng kulon, setelah masuk dari Banjarnegara dengan melalui jalanan yang sempit penuh tanjakan.

Kombinasi jalan dengan tanjakan dan tikungan

Jalan yang tidak terlalu lebar, berhati-hatilah!

Segera mencari tempat untuk beristirahat dan menghabiskan malam. Cukup banyak tersedia berbagai jenis penginapan disini. Mulai dari yang minim fasilitas hingga yang cukup komplit. Tapi jangan berharap mendapatkan penginapan yang ada kolam renangnya. Hehehe…

Bagi yang ingin kesana dan menginap, usahakanlah mendapat penginapan yang ada fasilitar air panas untuk mandi. Saya yang ada air panas saja malas mandi, gimana kalau tidak. Dijamin cuci muka saja tak akan berani. 😀

Sore hari saja kabutnya sudah setebal ini, bisa dibayangkan betapa dingin di daerah ini.

Pukul 20:00, mata sepertinya sudah tidak dapat menahan beratnya kelopak mata. Didukung stamina yang sudah hampir habis. Tak lama berselang, akhirnya berangkat juga ke dunia mimpi setelah sebelumnya makan malam tentunya.

Hari ke-2

Bangun sekitar pukul 03:30 pagi. Walau mata masih ngantuk, namun sulit untuk kembali tidur. Mungkin cuaca yang terlalu dingin membuat saya sulit memejamkan mata kembali.

Pukul 04:00 membangunkan istri untuk bersiap-siap melihat sunrise di gunung Sikunir. Setelah selesai azan subuh, berangkat menuju lokasi. Tanpa pemandu, mulailah meraba-raba gelapnya dini hari. Bukan hal-hal gaib yang ditakuti, namun jalan yang minim penerangan dengan jurang di sini kanan atau kiri jalan. Salah perhitungan bisa berakibat fatal.

Dalam perjalanan, baru sadar kalau senter untuk mendaki tertinggal di penginapan. Berhubung tanpa penerangan yang cukup akan sangat sulit mendaki. Ditambah dengan kondisi badan istri dan saya juga sebenarnya yang tidak cukup fit mendaki dicuaca yang cukup dingin, maka diputuskan untuk melihat sunrise dari gardu pandang saja, tepat di bawah gunung Sikunir.

Menanti sunrise datang

Mentari pagi akhirnya muncul

Berlatarkan gunung Sindoro

Cukup puas menikmati keindahan mentari pagi serta alam sekitar, saatnya kembali ke penginapan untuk mengisi perut yang sejak bangun belum diisi. Saat hari sudah mulai terang baru kelihatan bahwa yang dilewati dini hari tadi ternyata banyak jurangnya.

Sebelum sampai ke penginapan, disempatkan dulu bernarsis ria dengan istri di gerbang dieng plateau area.

Istriku ikutan narsis……hehehe…..

Pagi-pagi jalanan masih sepi

Setelah dirasa cukup puas. Langsung menuju penginapan untuk sarapan pagi, sekalian bersih-bersih. Tidak perlu berlama-lama di penginapan, segera meluncur ke komplek candi Arjuna yang tidak jauh dari penginapan.

Komplek candi Arjuna

Disini sempat ketemu dengan sesama penunggang pulsar bro Wahyu 040 PEGASUS Bogor. Saling berbagi informasi dan tentunya tak lupa foto-foto.

With bro Wahyu

Akhirnya bisa foto bareng dengan istri…hehehe…

My Lovely wife in action

 Setelah istri cukup puas disini, selanjutnya kita menuju telaga warna. Tidak jauh dari komplek candi Arjuna. Rupanya sudah cukup banyak pengunjung yang datang. Jadi tidak bisa sebebas sebelumnya.

Talaga Warna

Narsis lagi…hehehe….

Masih sekitar telaga warna, terdapat juga sebuah telaga yang lain, telaga Pengilon. Telaga Pengilon berarti telaga cermin. Air di telaga ini sangat jernih sehingga bisa memantulkan bayangan benda yang ada di sekitarnya. Namun saya hanya melihatnya dari jauh saja.

Cahaya matahari memantul di permukaan telaga Pengilon

Selanjutnya disekitar sini juga terdapat beberapa goa. Goa Sumur, goa Semar dan goa Jaran. Letaknya juga saling berdekatan.

Goa Sumur

Ada patung Gajahmada juga disini.

Tidak butuh waktu lama untuk bisa menikmati area telaga warna ini. Selanjutnya cuci mata dulu di depan gerbang masuk telaga warna, disini banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Mulai dari souvenir hingga makanan khas daerah Dieng. Sekalian juga nyicipin mie khas wonosobo, mie ongklok. Mungkin karena cuaca yang dingin, jadi perut terasa lapar terus. 😀

Mie Ongklok + Sate Ayam + Purwaceng, Mantap…..

Setelah cukup menikmati cemilannya :D, selanjutnya menuju kawah Sikidang. Tidak jauh dari telaga warna, sekitar 10 menit naik motor dengan jalan santai.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang merupakan tempat terakhir yang dikunjungi, mengingat perjalanan masih akan dilanjutkan ke Jogja. Segera kembali ke penginapan, langsung berkemas untuk kemudian check-out.

Berangkat dari penginapan sekitar pukul 11:00. Menuju arah Wonosobo dengan jalanan yang cukup ramai dibeberapa titik. Kemudian dilanjutkan ke arah Temanggung. Sekitar pukul 13:00 tiba di kota Temanggung, istirahat sembari makan siang.

Sekitar 1 jam beristirahat, perjalanan yang masih cukup jauh dijanjutkan kembali menuju arah Magelang. Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, Magelang akan cukup macet untuk dilewati. Candi Borobudur ada di kota ini, jadi wajar saja jika banyak wisatawan yang melewati daerah ini. Setelah melewati perbatasan Jogja dan Jateng baru bisa merasakan jalanan yang cukup lancar.

Di daerah Sleman berhenti sebentar beli oleh-oleh buat mertua, salak pondoh. Salak yang cukup populer dari Jogja.

Memasuki kota Jogja, mulai lagi terasa macet yang cukup panjang. Sepertinya libur lebaran ini pengunjung ke Jogja meningkat. Badan juga sudah mulai terasa lelah. Motor langsung di arahkan menuju jalan Prawirotaman mencari penginapan. Pengalaman tahun sebelumnya, tak akan dapat kamar kosong kalau dekat dengan Malioboro. Segera check-in disalah satu penginapan disini, dengan harga terjangkau dan cukup nyaman. Sangat berbeda dengan penginapan di Dieng.

Tiba di penginapan sekitar pukul 16:30. Segera bergegas ke kamar, sudah pengen cepat-cepat mandi dan istirahat.

Sekitar pukul 19:00, jalan-jalan malam dulu ke jalan Malioboro. Tidak lengkap rasanya jika ke Jogja tanpa kesini. Sekalian juga menikmati makan malam dengan diiringi nyanyian dari musisi jalalan yang silih berganti datang. 😀

Selesai dari makan malam, kemudian dilanjutkan ke jalan KS Tubun, pusatnya bakpia pathok di Jogja, beli sedikit buat cemilan mertua…hehehe…

Berhubung malam masih panjang dan ingin menikmati suasa Jogja. Istri saya ajak menuju Alun-alun selatan. Sekedar untuk nongkrong sambil ngopi-ngopi disana. Namun setiba ditempat tujuan. Niat untuk nongkrongnya langsung hilang. Malam itu suasananya sudah seperti pasar Gasibu Bandung di hari minggu. Penuh dan macet. Dari pada berdesak-desakan dengan orang lain, lebih baik istirahat di penginapan.

Hari ke-3

Bangun sekitar pukul 05:00, solat subuh dan bersiap-siap jalan-jalan lagi. Sejam berikutnya perjalanan dimulai menuju Candi Prambanan. Sekitar 18 KM dari penginapan. Karena masih pagi, jalan pun masih sepi. Jadi tidak butuh waktu lama untuk tiba disana. Sekitar pukul 06:30 akhirnya tiba di gerbang masuk candi Prambanan.

Suasana candi juga masih sepi pengunjung. Cocok buat saya dan istri yang tidak suka keramaian. 😀

Candi Prambanan

Salah satu relief di dinding Candi Prambanan

Candi Prambanan dari sudut lain

Cukup menikmati suasana disini. Saatnya kembali ke kota Jogja bertemu dengan rekan-rekan dari Pulsarian Bandung yang rencana awalnya akan berangkat ke Bromo. Saat itu mereka sedang istirahat di rumah salah satu kerabat ranger yang ikut berangkat di sekitar pasar Lempuyangan Jogja. Bercengkerama dan sharing informasi sebentar sambil mengisi perut yang sejak pagi belum diisi.

Sekitar pukul 10:00, kembali ke penginapan untuk berkemas pulang ke Bandung. Satu jam kemudian check-out dari penginapan. Informasi yang diterima dari rekan-rekan ranger tadi, bahwa jalan utama Bandung – Jogja sangat macet dan juga sebaliknya.

Demi menghindari macet, kali ini perjalanan pulang lebih banyak menggunakan jalur alternatif. Menuju arah Bantul terus ambil arah ke Galur. Melewati jalan ini tidak terlalu ramai. Dengan kondisi jalan yang baik, perjalanan pulang cukup terasa santai. Hampir sepanjang perjalanan, jalan yang ditemui dominan lurus dengan aspal yang bagus. Lama-lama cukup membosankan juga dengan jalan yang seperti ini.

Hingga daerah Glagah, kita mampir dulu ke pantai sekitar. Pantai Glagah indah dan pantai congot. Karena ada jalan penghubung antara kedua pantai tersebut, jadi kita hanya cukup membayar satu kali tiket masuk, dengan harga sangat murah 3500 rupiah / orang. Dengan karakter ombak di pantai selatan yang cukup besar, jadi di kedua pantai ini dilarang untuk berenang.

@ Glagah indah, Pantainya ada di seberang laguna ini

@ Pantai Congot

Ikutan narsis…hehehe…

Lumayan nekat juga sampai ke bibir pantai Congot ini dengan motor seberat ini. Benar saja, saat akan kembali ke jalan aspal motor terjebak di pasir. Cukup banyak juga tenaga yang keluar namun seperti motor enggan meninggalkan tempat ini. Beruntung ada yang berbaik hati membantu mendorong motor hingga keluar. Thanks bro.

Setelah kembali ke jalan aspal, motor kemudian dipacu menuju arah Bandung melewati jalan alternatif pesisir selatan. Hingga memasuki daerah Ambal istirahat sejenak sambil menikmati makan siang dengan sate ayam khas Ambal.

Memasuki daerah Puring, motor sempat mogok gara-gara kehabisan bensin. Beruntung motor ini punya bbm cadangan. Dengan terpaksa harus keluar jalur menuju jalan utama Kebumen untuk mengisi bensin. Sekitar 1 jam dengan hati was-was takut kehabisan bensin cadangan. Tiba juga di daerah Gombong, jalur utama Kebumen. Namun, subhanallah macetnya minta ampun.

Segera mencari SPBU terdekat yang jaraknya masih 2 KM dengan bermacet ria. Setelah isi full, perjalanan dilanjutkan kembali. Tidak tahan dengan kemacetan yang panjang, hingga memasuki daerah Tambak mencoba lagi mencari jalur alternatif menuju Cilacap. Jalan sepi lewat sini, cuma makin jauh.

Karena sudah cukup malam, dari Cilacap perjalanan diarahkan kembali ke jalur utama. Awalnya ingin mencoba jalur alternatif yang langsung menuju Banjar. Berhubung suasana sepi dan gelap maka terpaksa ubah rute.

Sekitar pukul 21:00 kembali ke jalur utama, jalan masih tetap ramai namun sudah lebih lancar sedikit. Perjalanan 2 jam hingga Ciamis cukup lancar. Setelah melewati kota Ciamis, perjalanan penuh tantangan kemacetan pun dimulai. Mobil nyaris tak bergerak.

Tiba di kediaman mertua, Malangbong sekitar pukul 01:00 dini hari. Perjalanan 14 jam dari Jogja yang melelahkan.

Rute Perjalanan ± 850 KM

Advertisements

15 responses to “Journey to Dieng Plateau and Jogja

  1. hah..
    saya sudah ikut jalan2 dengan membaca RR ini saja,
    ikut merasakan suasana Dieng (karena udah pernah kesana), keramaian Malioboro (udah pernah juga), dan mendorong motor di pasir pantai (pengalaman juga hahahahaha.. beratnya minta ampyun..)
    Maaf juga bro karena tidak jadi bisa menemani, karena saya dan istri sudah berpolemik sendiri, pasti macet jalan ke Jawa, hehehe..
    Jadi kita cuma stay di rumah sajah…
    semoga kapan2 kita bisa jalan bareng 😀
    *salam buat istri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s