Jelajah Jawa Timur: Day 2 – L’Arch de Triomphe ala Kediri

Sabtu, 23 Juni 2012. Masih di kaki gunung Lawu, Tawangmanggu. Bangun pagi-pagi menghirup segarnya udara dingin pegunungan bebas polusi membuat semangat berpetualang kembali lagi.

Menikmati secangkir teh manis hangat yang sudah tersedia di teras kamar menambah sedikit tenaga yang sudah hampir habis untuk bertarung kemarin seharian.

Suasana tenang di teras kamar

Segera berkemas menyiapkan peralatan tempur lagi. Tujuan utama hari ini adalah menghadiri resepsi pernikahan teman di Kediri, Jawa timur.

Perjalanan panjang pun akan dimulai lagi. Namun sesaat hampir meninggalkan kamar, pengurus penginapan tiba-tiba saja membawa sarapan pagi berupa nasi goreng ke arah kita. Alhamdulillah, ternyata teh manis hangat bukan penutup sarapan pagi ini. :mrgreen:

Selesai menyantap hidangan yang akhirnya cukup menambah tenaga, sekitar pukul 8 pagi perjalanan pun dimulai menuju arah Magetan. Sepanjang perjalanan masih di sekitar gunung Lawu, banyak tempat-tempat bagus untuk ajang narsis. 😛

Masih di daerah Tawangmanggu. Jalan bagus dan sepi.

Tidak begitu jauh dari tempat menginap, akhirnya untuk pertama kalinya mengendarai motor saya memasuki wilayah Jawa timur. Hampir sepanjang perjalanan menuju Magetan, banyak tempat-tempat bagus yang bisa diabadikan melalui kamera.

Suasana pegunungan yang menyejukkan hati

Telaga Sarangan, hanya bisa menatap keindahannya dari kejauhan

Tanpa disadari ternyata sudah hampir 1 jam kita meninggalkan penginapan. Jarak yang sudah ditempuh baru beberapa kilometer saja. Terlalu banyak keindahan yang bisa dinikmati di sini. Namun dengan waktu yang terbatas, dengan berat hati terpaksa melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan lancar melewati Magetan hingga memasuki daerah Caruban sampai daerah Nganjuk mulai berbagi jalan dengan kendaraan-kendaraan besar yang melintasi jalur tengah pulau Jawa ini. Dari Nganjuk menuju kediri, jalan cukup bagus namun tidak begitu lebar. Mengingat jalan ini cuma jalan kabupaten bukan bagian dari jalan provinsi.

Tiba di kota Kediri sudah menunjukkan pukul 11 siang. Cuaca kota Kediri hari sangat cerah tanpa awan. Sinar matahari pun dengan leluasa langsung menyinari bumi tanpa halangan. Panas tubuh pun semakin meningkat. Gerah dan lelah bercampur jadi satu.

Dari kota Kediri perjalanan langsung diarahkan menuju daerah Pesantren, tujuan utama hari ini. Dalam perjalanan juga melewati monumen Simpang Lima Gumul, monumen mirip dengan L’Arch de Triomphe di Paris, Prancis.

Simpang Lima Gumul, Kediri

Mumpung sedang ada di Kediri, akan terasa kurang jika momen di sini tidak diabadikan. :mrgreen:

banghendri & Wife di L’Arch de Triomphe ala Kediri

Cukup puas mampir di sini. Selanjutnya langsung menuju lokasi resepsi pernikahannya. Namun sedikit masalah teknis terjadi. Ternyata saya salah menyimpan koordinat lokasi resepsi. Alamat pun tidak diketahui dengan jelas. Jadi perjalanan pun dilanjut menuju daerah Pesantren tanpa navigasi yang jelas. Hanya berharap akan menemukan janur kuning sebagai penandanya.

Hingga akhirnya beberapa saat mencari dan sadar sudah hampir keluar dari daerah Pesantren. Akhirnya telpon ke saudara yang lebih dulu sudah hadir ke resepsi, namun tetap tidak mendapatkan informasi yang jelas.

Dalam keputus asaan, adzan pun berkumandang menandakan sudah masuk waktu solat zuhur. Langsung menuju Mesjid yang kebetulan hanya beberapa meter dari posisi berhenti. Solat kemudian istirahat sejenak.  Pikiran pun jadi lebih jernih sehingga sedikit ingat lokasi TKP walau tidak terlalu detail, dan juga sedikit dapat petunjuk dari jamaah lain yang sudah selesai solat.

Perjalanan dilanjutkan kembali mengharapkan keberuntungan. Alhamdulillah ternyata tidak lebih dari 5 menit akhirnya kita menemukan lokasi resepsinya. Lokasi yang saya lihat sebelumnya namun dengan nama orang lain. Mungkin inilah salah satu kemudahan yang diberikan dari keutamaan mendirikan solat diawal waktu. Wallahu a’lam bish shawabi.

Dengan pakaian bukan semestinya bertemu dengan kedua mempelai, acara yang cukup meriah dengan makanan khas Jawa timur yang mantap. :mrgreen:

Selamat kepada kedua mempelai, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Tidak bisa berlama-lama, dengan terpaksa harus meninggalkan acara meriahnya. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Bangil, Pasuruan bertemu dengan sahabat sejak kecil pak Kadar yang sudah lama tak bertatap muka.

Kali ini melewati jalur menuju Jombang dengan sauna alaminya kemudian melewati juga daerah Mojokerjo. Memasuki daerah Gempol, kondiri jalan sudah mulai ramai dengan kendaraan-kendaraan berat. Mulai merasakan kemacetan cukup parah, hingga baru memasuki daerah Beji perjalanan baru mulai terasa lancar lagi.

Memasuki kota Bangil, kita sudah langsung di tunggu tuan rumah yang sudah dikasi kabar sebelumnya oleh pak Kadar. Langsung di bawa menuju ke kediaman beliau untuk istirahat.

Hari juga sudah semakin sore, waktu sudah menunjukkan pukul 16:30 sore. Dipersilahkan untuk mandi dulu merupakan hal yang paling bahagia saat ini. Membersihkan debu kotor yang sudah bercampur dengan keringat. Serta tentunya solat ashar juga yang sudah sedikit telat.

Di kediaman keluarga pak Dadin, sahabat Pak Kadar.

Tidak begitu lama, adzan magrib pun mulai berkumandang. Bersiap-siap untuk solat berjamaah ke Mesjid sekitar.

Selesai solat, kita pun sudah disuguhi hidangan makan malam istimewa. Bebek goreng khas Bangil. Hidangan bebek yang paling enak dari semua hidangan bebek yang pernah saya cicipi. Semoga lain kali masih ada waktu dan kesempatan untuk mencicipinya lagi. 😛

Sekitar pukul 19:00 perjalanan ke Bromo kita lanjutkan kembali. Terima kasih untuk pak Dadin dan keluarga atas semua kebaikannya.

Oh ya, kali ini pak Dadin turut serta menemani kita menjelajah Bromo. Jadi pak Kadar tidak akan kesepian lagi tidur di kamar. 😆

Menuju arah Pasuruan, di daerah Kraton belok kanan menuju Gondang Wetan. Jalur masih cukup ramai, kondisi jalan hanya sebagian kecil yang rusak ringan. Mulai daerah Mangguan hingga Wonokitri, kita akan ditantang merasakan jalur penuh tikungan-tikungan tajam secara bertubi-tubi. Kondisi jalan yang minim penerangan membuat medan semakin terasa berat. Mungkin jika melewatinya siang hari akan terasa lebih menyenangkan.

Alhamdulillah sekitar 1 ½ jam perjalanan tiba juga di daerah Tosari. Keliling-keliling berharap menemukan penginapan, namun sepertinya cukup sulit. Hingga kemudian calo setempat menawarkan membantu mencari. Setelah beberapa kali mampir di penginapan sekitar, akhirnya kita menemukan yang cukup bagus dan lumayan pas di kantong. Lokasinya persis di area parkir kendaraan pribadi gerbang masuk ke Pananjakan.

Harga permalamnya dikenai biaya Rp150.000,-/kamar, itu pun sudah termasuk upah untuk 2 orang calo yang mengantarkan kita. Terdapat 2 kamar yang disewakan yang menyatu dalam ½ bagian rumah. Jadi jika kita menyewa 2 kamar ini, sama saja dengan kita sudah menyewa ½ dari rumah ini yang juga memiliki sofa di ruang tengahnya. Cocok dipakai untuk yang bawa rombongan atau keluarga.

Tak terasa sudah hampir pukul 22:00. Saatnya istirahat untuk persiapan besok pagi menyaksikan sunrise di Pananjakan.

Rute Tawangmangu – Kediri – Pasuruan – Bromo

Advertisements

7 responses to “Jelajah Jawa Timur: Day 2 – L’Arch de Triomphe ala Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s