Jelajah Jawa Timur: Day 3 – Menelusuri Keindahan Bromo

Minggu, 24 Juni 2012. Alarm telpon berbunyi menandakan sudah pukul 3:30 pagi hari. Walau masih cukup ngantuk, segera bersiap-siap menuju Pananjakan 1 menunggu terbitnya mentari pagi.

Pukul 4 perjalanan menuju gardu pandang Pananjakan dimulai. Memasuki gerbang menuju TKP yang yang hanya beberapa meter saja dari penginapan kita diwajibkan membayar biaya masuk. Dengan rincian :

  • Wisatawan lokal: Rp6.500,-
  • Wisatawan asing: Rp25.000,-
  • Kendaraan roda 4: Rp6.000,-
  • Kendaraan roda 2: Rp3.000,-

Perjalanan menembus dinginnya udara pagi tak menyurutkan niat sedikit pun cepat-cepat tiba di lokasi. Namun dengan jalan yang cukup sempit serta minim penerangan jalan, diwajibkan ekstra konsentrasi mengendarai kendaraan. Dan juga harus lebih rela berbagi jalan dengan mobil-mobil jeep yang cukup banyak melintas.

Tiba di lokasi parkir, sudah mulai terlihat kerumunan massa yang cukup banyak. Menuju gardu pandang, pemburu sunrise ternyata jauh melebihi bayangan saya sebelumnya. Ramai euy….

Mumpung mentari paginya belum muncul, untuk yang muslim bisa solat subuh dulu di musholla darurat. Jika tidak ingin antri panjang, sangat disarankan untuk wudhu di penginapan saja sebelum berangkat.

Mentari pagi sudah mulai menampakkan diri

Hampir sekitar pukul 5, sunrise yang dinantikan mulai menampakkan diri. Para pengunjung mulai bersorak tanda tanda kegirangan.

Beberapa menit kemudian, menjadikan langit mulai tampak keemasan

Hingga akhirnya mentari muncul, semakin menambah meriahnya suasana. Semakin memadatkan juga kawasan ini. Momennya juga jadi sulit untuk diabadikan bersaing dengan orang-orang sudah sangat antusias.

Sedikit mengalah, mencari view bagus ke sisi lain. Mentari juga sudah mulai menyinari terang gunung Bromo dan gunung Batok yang saling berdampingan.

Gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru dari Pananjakan 1

Pemandangan sisi lain dari Panjakan 1

Cukup puas menikmati suasana di sini. Saatnya kembali ke penginapan dulu untuk berkemas, sekaligus mengisi perut yang sudah berontak sejak tadi. :mrgreen:

Dalam perjalanan mampir sejenak dulu untuk cari view lain. Hasilnya tidak kalah bagus dengan view dari Pananjakan 1.

Another view of Bromo

Tiba di penginapan, segera berkemas sekalian sarapan nasi goreng buatan ibu pemilik. Porsi pas dengan harga lumayan.

Sekitar pukul 9 pagi mulai meninggalkan penginapan menuju lautan pasir Bromo. Kembali lagi menuju arah Pananjakan 1.

Dari Pananjakan 1 turun menuju lautan pasir Bromo dengan kondisi jalan cukup rusak parah di beberapa titik. Sangat jauh berbeda jika turun dari arah Cemorolawang yang memiliki akses yang sudah sangat bagus.

Namun view melewati jalan ini sangat pantas untuk dinikmati.

Lautan pasir Bromo yang membentang luas

Selanjutnya menuju ke bawah melewati turunan curam dengan jalan rusak parah atau bisa dikatakan hancur. Ekstra hati-hati dibutuhkan untuk melewati jalur ini.

Tiba di padang pasir disambut dengan tantangan baru melewati jalanan pasir yang sangat labil. Mungkin berbeda ceritanya jika kondisi cuacanya hujan sedikit saja. Jadi tidak perlu bersusah payah menaklukkan jalur menuju lereng gunung Bromo ini.

Sesampainya dekat sekali dengan Bromo, rasa senang, bangga, dan takjub bercampur jadi satu. Alhamdulillah masih diberikan kenikmatan seperti ini. Tentunya momen ini tidak cukup untuk dilihat saja. 😛

banghendri & wife at Bromo

Para penjelajah 😀

Melihat dari kejauhan banyak sekali yang sedang berjuang mendaki hingga ke puncak Bromo serta cuaca yang cukup terik. Membuat semangat untuk mendaki ditunda saja. Beruntung saya sudah pernah mendaki hingga puncak Bromo beberapa tahun silam, jadi tidak begitu penasaran lagi. :mrgreen:

Sudah cukup puas menikmati suasan di sini. Selanjutnya menuju padang rumput yang terletak di sebelah selatan Bromo. Namun untuk bisa ke sana, tetap harus merasakan medan padang pasir yang cukup sulit ditaklukkan dengan motor yang cukup berat ini.

Pemandangan menuju lokasi juga masih belum bisa bilang untuk dicukupkan saja narsisnya. 😆

Di padang pasir dengan latar gunung Bromo dan gunung Batok

Perjalanan yang hanya beberapa kilometer saja namun cukup menguras tenaga, akhirnya tidak sia-sia sesampainya di kawasan savana ini. Walau hijaunya tidak sebagus di musim hujan. Tetap saja merupakan tempat yang layak dikunjungi jika sudah berada di kawasan Bromo.

Savana Bromo

Karena waktu yang terbatas, jadi tidak cukup untuk menjelajah semua kawasan ini. Cukup menikmati dari jauh saja. Namun masih bisa eksis di sepanjang jalan yang tetap indah.

Banyak juga menyebutnya dengan bukit teletubbies

Masih banyak tempat yang sebenarnya ingin dikunjungi di sekitar Bromo ini. Mungkin butuh 2 atau 3 hari baru bisa menikmati seluruh kekayaan alam wilayah ini. Namun apa daya, waktu yang terbatas memaksa kita untuk menuju tujuan selanjutnya.

Perjalanan pulang bukan berarti kembali lagi menuju Wonokitri atau bisa juga lewat Cemorolawang. Dari padang savana ini kita lanjutkan menuju arah barat. Dari kawasan ini ada akses jalan yang cukup bagus dari semen yang dibuat menyerupai paving block. Jalur ini nantinya akan tembus hingga memasuki daerah Malang.

Hanya beberapa kilometer saja jalan yang masih dibuat dengan semen. Selanjutnya memasuki jalan kabupaten akan merasakan jalan aspal mulus lagi.

Tiba di daerah Poncokusumo yang berarti kita sudah memasuki kawasan Kabupaten Malang. Istirahat sejenak di Mesjid sekitar yang tidak lama kemudian adzan berkumandang. Alhamdulillah waktu yang pas untuk bisa solat berjamaah lagi.

Sekitar ½ jam beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju arah Turen. Sembari mencari tempat istirahat lagi untuk makan siang. Kemudian memasuki daerah Tanggung baru ketemu warung makan dengan menu seadanya. Sebelumnya hanya melihat banyak yang jual bakso saja di sepanjang jalan.

Cukup istirahatnya, perjalanan dilanjutkan kembali menuju arah barat. Namun perjalanan dilanjutkan dengan formasi 3 orang lagi setelah pak Dadin memisahkan diri untuk pamit pulang ke Bangil menggunakan kereta dari stasiun KA Kepanjen. Terima kasih pak atas semua kebaikannya. Semoga lain kali bisa ketemu lagi.

Melewati kabupaten Blitar, Tulungagung hingga tiba di Trenggalek langit sudah mulai dihiasi senja sore. Menandakan waktu magrib sebentar lagi akan tiba. Segera mencari Mesjid untuk menunaikan kewajiban dan istirahat sejenak lagi.

Pukul 17:30 perjalanan yang masih panjang dilanjutkan kembali menuju Pacitan. Mulai merasakan minimnya penerangan dengan kondisi jalan yang masih banyak jalan rusaknya. Dipaksa untuk sering mendaki dan turun bukit, juga dengan kombinasi tikungan-tikungan tajam membuat jalur ini jarang dilewati. Mungkin juga dengan kondisi jalan yang sempit, sepanjang perjalanan ke Pacitan saya sama sekali tidak pernah ketemu dengan bus umum yang melintas.

Kondisi tubuh yang sudah semakin melemah membuat perjalanan semakin terasa berat. Hingga akhirnya sekitar pukul 20:00 akhirnya tiba juga di Kabupaten Pacitan.

Segera mencari tempat untuk istirahat. Menuju jalan Ahmad Yani yang cukup banyak hotel. Karena sudah terlalu lelah, dan sudah cukup malas untuk mencari yang cukup bagus. Hingga akhirnya kita tiba di Hotel Remaja, dengan biaya termurah permalam hanya Rp25.000,- saja. Namun dengan fasilitas seadanya, sudah cukup untuk saya istirahat. Tapi ini bukan hotel yang bisa saya rekomendasikan buat yang ingin ke Pacitan ya. Masih banyak hotel-hotel lain yang juga murah. :mrgreen:

Merapikan barang-barang bawaan ke kamar, kemudian makan malam dulu di sekitar hotel. Selanjutnya baru bisa tidur dengan nyenyak memulihkan tenaga untuk persiapan petualangan besok paginya.

Rute Bromo – Malang – Pacitan

Advertisements

12 responses to “Jelajah Jawa Timur: Day 3 – Menelusuri Keindahan Bromo

  1. Ngiri euy… Sudah ada Bajaj di rumah, tapi usia dan stamina sudah tidak memungkinkan lagi. Kemarin pake mobil aja serasa rontok nich badan…
    Keep on traveling Hen… dan jangan males untuk menulis *sekaligus semakin bikin iri*

    • Nanti kita bareng2 jelajah Jawa Barat saja pak
      masih banyak yang belum dikunjungi

      sayang sekali kemarin kita gak ketemu di Kediri ya pak
      tadinya mau minta rekomedasi tempat makan enak di Jatim :mrgreen:

  2. bang mau nanya, kalo setelah dari bromo dan pulang melalui probolinggo menuju trenggalek itu rutenya gimana ya? perjalanan kira2 berapa jam?

    • dari bromo ke Trenggalek lewat Probolinggo jalurnya sih emang lebih bagus tapi jadi makin jauh mas
      jalurnya kira2 Bromo – Cemoro Lawang – Probolinggo – Pasuruan – Purwosari – Malang – Kepanjen – Tulungagung – Trenggalek.

      Jalur singkatnya dari Bromo bisa langsung tembus ke Tumpang Malang lanjut ke Kepanjen melewati Turen tanpa harus masuk kota malang dulu.

      Kalau saya dulu dari Bromo ke Trenggalek tapi lewat Tumpang sekitar 5-6 jam perjalanan.
      Kalau harus ke Probolinggo dulu berarti harus nambah sekitar 90 KM lagi. Paling tidak jadi 7-8 jam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s