Terombang-ambing dan “Terdampar” di Pulau Samalona

Akhirnya kesempatan kedua berkunjung ke Makassar datang lagi. Bukan untuk berlibur memang, dinas dari kantor sedikit “memaksa” untuk kembali lagi ke kota Daeng.

Jika sebelumnya hanya bertahan di sekitar komplek bandara Sultan Hasanuddin saja. Beruntung kali ini ada sedikit celah yang bisa dimanfaatkan menikmati sekitar kota Angin Mamiri ini.

Sedikit lewat tengah hari sudah bisa check-in di hotel sekitar pantai Losari, pantai paling terkenal di kota ini. Hari masih cukup terik, jadi bisa ngadem sebentar di  dalam kamar sembari melepas penat perjalanan.

Baru saja merebahkan diri di sisi kasur, teman kantor yang kebetulan sedang cuti dan pulang ke kampung halamannya ini sudah datang dengan Jalangkote penganan khas Makassar sebagai penyambut kedatangan kami di kotanya. :mrgreen: Dan juga sudah siap menjadi pemandu (yang baru mudik setelah belasan tahun) hari ini.

Dibawa menelusuri pantai Losari menuju dermaga kayu Bangkoa di hampir penghujung jalan Penghibur kota Makassar. Rencananya kita akan dibawa ke pulau Kodingareng Keke, pulau tak berpenghuni yang katanya tidak begitu jauh dari daratan.

Dermaga kayu Bangkoa. Tawar menawar sewa perahu yang cukup alot. 😀

Akhirnya “pasrah” juga dengan tawaran sang nakhoda. Hampir pukul 5 sore perahu mulai berlayar, ombak juga tampaknya masih cukup bersahabat. Baru 10 menit berjalan perahu kecil ini merapat sejenak di dermaga pulau Lae-Lae menambah perbekalan bahan bakar. Gak lucu kan di tengah laut kehabisan bensin. :mrgreen:

Pelabuhan Peti Kemas Makassar dari Pulau Lae-Lae

Saat sore ternyata ombak jauh lebih menantang. Beberapa kali dihantam ombak cukup besar yang mulai menyiutkan nyali. Semakin jauh ke tengah dentuman keras saat beradu dengan ombak semakin sering terdengar dari lambung perahu kayu ini. Wisata ala turis seketika berubah menjadi wisata ekstrim. Saya yang duduk di paling depan mungkin yang paling merasakan hempasan ombak besar yang seperti tiada akhir.

Perjalanan masih jauh. Awan pekat menanti di ujung sana.

Tiga puluh menit berjuang melewati ombak, akhirnya mulai tampak pulau kecil di kejauhan. Kurang dari 10 menit penuh harapan mulai mendekati dermaga pulau. Namun sayang, menuju pulau Kodingare Keke ternyata baru setengah perjalanan yang dilalui. Nyali sudah hampir hilang dan ombak pun tampak belum tenang. Tanpa pikir panjang, segera diputuskan berlabuh di pulau Samalona ini saja. Sepertinya terlalu beresiko jika dilanjutkan. Bahagia sudah menginjakkan kaki di daratan.

Walau tujuan awal tidak kesampaian, pulau Samalona ini ternyata cukup menarik. Pasir putih dengan air yang cukup jernih serta jauh dari kebisingan kota besar. Pulau berpenghuni yang sepertinya kurang dari 2o kepala keluarga ini terdapat resort juga penginapan ala guest house. Namun jika berkantong pas-pasan bisa juga bawa tenda dan camping seperti beberapa pengunjung yang singgah di pulai ini.

Daya tarik lain ini mungkin bisa melihat sunset dan sunrise dari pulau. Sayang, saat berkunjung mataharinya sedikit bersembunyi di balik awan tebal.

Senja di Samalona

Walau tidak begitu spektakuler, sedikit sudah mengobati perjuangan kemari. Yang lain pun sudah mulai selfie-selfie dengan latar sunset. Btw, tak kenal maka tak sayang. Halaaahhh…..

Tim terombang-ambing. 🙂

Hari yang sudah semakin sore memaksa segera kembali ke daratan utama. Sedang tidak berniat menginap di pulau ini. :mrgreen: Perahu sudah menanti di dermaga.

Dermaga Pulau Samalona

Senja di ujung pulau menjadi penutup yang sempurna. Mungkin lain kesempatan bisa mampir lagi sebelum ke Kodingareng Keke. Keukeuh… :mrgreen:

Senja di Ujung Pulau.

Perjalanan pulang ternyata bisa ditempuh lebih cepat. Ombak malam jauh lebih bersahabat.

Pulau Samalona on Google Maps

Advertisements

14 responses to “Terombang-ambing dan “Terdampar” di Pulau Samalona

  1. AKhirnya, ada tulisan baru juga. Hahaha 😀

    Aku percaya perjalanan itu memiliki takdirnya sendiri. Kadang kita tidak berhasil ke destinasi yang direncanakan, tapi malah sampai di tempat yang tak direncanakan. Yah, kalau sudah begitu, tinggal dinikmati saja deh 🙂

  2. Wah, sekalipun urung ke Kodingareng Keke, di Samalona sudah dapat hadiah senja yang cantik kok *pukpuk* 😀

  3. Perjuangan mengempas ombak ternyata berbuah sesuatu yang sangat manis. Senja yang masih berbaik hati menyisakan akuamarin yang demikian cantik.
    Tanpa tahu kenapa, saya merasa warna senja di sini berbeda dengan senja yang lain. Jingganya mempastel, alih-alih keemasan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s